Pertumbuhan Jumlah Pengguna Internet Indonesia: Kuantitas vs Kualitas Pengguna

sumber: up-samiaji-9e.blogspot.com

 

Kompas pada kanal tekno.kompas (01/11/2012) terdapat artikel yang menyoroti tentang pertumbuhan pengguna internet Indonesia yang mencapai sekitar 55 juta pengguna. Jika dilihat, jumlah tersebut memang jumlah yang tidak kecil. Namun, apabila pencapaian tersebut dibandingkan terhadap target WSIS, Indonesia masih memiliki banyak PR untuk menggenjot jumlah pengguna internet tanah air. Berdasarkan target WSIS, pada tahun 2015 Indonesia berkomitmen untuk  menghubungkan separuh dari penduduk Indonesia dengan internet. Dengan kata lain, secara matematis Indonesia masih harus mencari lebih dari 60 juga pengguna internet baru.

Permasalahan Kuantitas Pengguna Internet

Kita boleh saja berbangga diri sebagai pengguna telepon seluler terbesar ke-5 (220 juta),  pengguna facebook terbesar ke-3 (43 juta), dan  pengguna twitter terbesar ke-5 (20 juta) di dunia. Namun faktanya secara kuantitas Indonesia masih memiliki gap yang sangat jauh dibandingkan dengan target yang ingin dicapai dalam waktu sekitar 2 tahun ke depan. Namun, sebenarnya apa akar permasalahan yang menyebabkan lambatnya penetrasi internet di masyarakat?

Menurut saya, rendahnya penetrasi internet tersebut disebabkan oleh belum meratanya “jalan raya” yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Yang dimaksud dengan “jalan raya” di sini adalah infrastruktur jaringan broadband atau pita lebar. Nah, fasilitas “jalan raya” ini hanya dapat dinikmati oleh kebanyakan orang yang tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Makassar, dsb. Namun, apabila kita berada di luar kota-kota tersebut, yang tersedia hanyalah “gang sempit” yang ibaratnya kalau mau papasan saja menyulitkan orang. Inilah yang akhirnya dapat men-discourage pengguna internet pemula untuk memberdayakan lebih lanjut internet di kehidupannya sehari-hari.

Memang ini merupakan permasalahan bangsa yang harus diselesaikan bersama oleh Pemerintah dan Industri Telekomunikasi untuk menciptakan “lingkungan” yang baik dalam rangka peningkatan penetrasi internet di daerah-daerah. Untuk itu, harus ada formulasi kebijakan yang dihasilkan oleh Pemerintah (dalam hal ini Kementerian Kominfo) untuk mendorong penyebarluasan jaringan pita lebar di Indonesia. Memang Pemerintah sudah melakukan upaya dengan meluncurkan Program Strategis Palapa Ring. Namun, pada akhirnya konsorsium yang telah dibentuk hanya menyisakan PT. Telkom. Jika penggelaran jaringan di bawah tanah menemui kendala, ternyata yang di atas tanah juga menemui kendala. Pemerintah sampai kini masih berkutat dengan kisruh di kanal 3G yang dampaknya akan menghambat implementasi teknologi 4G atau LTE.

Permasalahan Kualitas Pemanfaatan Internet

Disamping masalah jumlah pengguna internet yang masih harus digenjot, ternyata kita juga masih memiliki masalah pemanfaatan internet. Internet merupakan teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai hal. Setiap orang dapat memilih, apakah ia memanfaatkan internet untuk hal yang positif atau sebaliknya untuk hal yang negatif. Walaupun saya tidak punya statistiknya, namun rasanya penggunaan internet oleh masyarakat kita kurang dimanfaatkan untuk hal yang positif. Sebagai salah satu pengguna facebook dan twitter terbesar di dunia, masih banyak yang menggunakan media sosial tersebut hanya sekedar update status, posting foto-foto narsis, sampai yang ke arah negatif seperti cyber bullying, belum lagi kasus pemerkosaan akibat berkenalan dengan orang yang tidak dikenal di media sosial. Padahal internet dapat digunakan untuk menambah pengetahuan, memasarkan dagangan secara online, dsb.

Untuk meminimalisir dampak negatif dari internet, tidak cukup dengan mengaplikasikan teknologi content filtering karena bagaimanapun yang namanya teknologi pasti memiliki celah. Yang terpenting adalah bagaimana kita membentukmindset para pengguna internet, khususnya pengguna internet pemula. Di sini edukasi mengenai pemanfaatan internet yang positif sangat dibutuhkan. Dalam hal ini pemerintah telah memulai program yang diberi nama “Internet Sehat” yang merupakan kegiatan berbasis komunitas yang berupaya untuk mengedukasi pengguna internet agar menggunakan internet untuk hal-hal yang positif. Di samping itu, peranan orang tua serta kerabat terdekat juga sangat penting dalam melakukan edukasi kepada pengguna internet pemula. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh “GapTek” dan harus “melek IT” karena perlu disadari bahwa “buta” terhadap IT dalam Era Informasi saat ini sama dengan “buta aksara”. Ini adalah analogi yang seringkali kita dengar karena teknologi berkembang dengan sangat pesat dan kita senantiasa harus mengupdate pengetahuan kita agar tidak menjadi masyarakat yang “terbelakang” secara teknologi.

Sebagai penutup, kita harus menyadari bahwa peningkatan penetrasi internet memang penting sebagai bentuk pemerataaan akses terhadap informasi. Akan tetapi kita juga tidak boleh abai terhadap masyarakat selaku pengguna internet tersebut. Kita harus senantiasa melakukan edukasi yang berkelanjutan mengenai manfaat positif dari teknologi internet agar masyarakat dapat meningkatkan kualitas serta taraf hidupnya dan diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan daya saing bangsa Indonesia di kancah global.

Salam

Published at Kompasiana.com (2 November 2012)

Launching e-Journal STMIK Indonesia Jakarta

Jurnal Informatika dan Komputasi STMIK Indonesia (ISSN: 1412-0232) merupakan sebuah Jurnal Ilmiah untuk mengembangkan ilmu khususnya di bidang Sistem Informasi dan Sistem Komputer. Jurnal tersebut diterbitkan secara berkala oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) sebanyak 2 (dua) kali dalam 1 tahun, yakni pada bulan April dan Oktober. Untuk memperluas akses terhadap Jurnal tersebut kepada masyarakat, maka LPPM meluncurkan website e-Journal STMIK Indonesia. Kini, Jurnal Informatika dan Komputasi STMIK Indonesia dapat diakses secara online melalui alamat: http://jurnal.stmik-indonesia.ac.id. Diharapkan berbagai artikel ilmiah yang ada pada Jurnal tersebut dapat menjadi referensi dan mampu memperkaya khasanah pengetahuan di bidang Sistem Informasi dan Sistem Komputer di tanah air.

Salam

Image Gallery:

Pentingkah Standar Kompetensi di Bidang TIK?

Sebagai pembuka artikel ini langsung saja saya jawab dengan tegas bahwa standar kompetensi di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) itu sangat penting! Mengapa? Beberapa alasan rasional yang dapat saya uraikan antara lain:

  1. Harus ada alat ukur untuk menilai seberapa tinggi penguasaan seseorang terhadap suatu bidang tertentu.
  2. Seseorang yang (akan) terjun ke dunia profesional sangat membutuhkan pengakuan akan kepakarannya.
  3. Standar kompetensi dapat membantu perusahaan dalam proses rekrutmen pegawai sehingga kelak perusahaan dapat mengidentifikasi spesifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan secara tepat.

Sebagai salah satu bidang pekerjaan yang ada di dunia ini, TIK juga sangat membutuhkan standar kompetensi. Namun, pesatnya perkembangan teknologi berdampak pada beragamnya profesi yang ada pada bidang ini. Dalam buku “Internet and IT Job Descriptions HandiGuide 2012” tercatat ada 243 jenis pekerjaan di bidang TIK. Hal ini tentu memberikan tantangan tersendiri dalam menetapkan standar kompetensi untuk seluruh jenis pekerjaan yang ada.

Di Indonesia sendiri, pemerintah telah berupaya untuk menyusun standar kompetensi untuk seluruh bidang pekerjaan yang ada. Standar tersebut diberi nama “Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia” atau disingkat dengan SKKNI. Adapun lembaga resmi yang ditunjuk untuk mengelola SKKNI tersebut adalah Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Dengan demikian, berbagai modul pelatihan yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga pelatihan harus merujuk pada SKKNI. Sedangkan lembaga yang dapat melakukan kegiatan sertifikasi ialah lembaga sertifikasi yang telah mendapatkan izin dari BNSP, contoh: LSP Telematika.

Adapun SKKNI untuk profesi di bidang TIK baru mencakup 5 bidang, yakni:

Kenapa baru ada lima, sedangkan ada lebih dari 200 profesi di bidang TIK? Memang mendefinisikan standar kompetensi bukan perkara gampang. Dibutuhkan kerjasama erat antara A-B-G (Academic, Business, dan Government). Selain itu, harus dipilah terlebih dahulu mana profesi yang menjadi prioritas karena boleh jadi ada profesi TIK yang memang tidak dibutuhkan di Indonesia.

Untuk informasi lebih lengkap terkait SKKNI, silakan lihat website berikut:

Salam

ICCEA 2011 Hai Kou, China

From Sekedar Berbagi Ilmu

Pada bulan Juli saya turut berpartisipasi sebagai pemakalah pada International Conference on Computer Engineering and Applications (ICCEA) 2011 yang bertempat di Hai Kou, China. Dalam kesempatan tersebut saya memaparkan paper saya yang berjudul “A Multidimensional Approach in Content-based Multimedia Information Retrieval System.” Bagi yang berminat untuk melihat paper tersebut dapat mengakses link berikut: http://www.slideshare.net/albaar/multidimensional-approach-in-cbmmirs-full-paper-v40.

Abstrak:

In this digital era, the use of digital multimedia information is highly utilized and growing very rapidly due to the development of the Internet. Thus, users demand for more effective content-based multimedia information retrieval system (CBMMIRS). The major challenge in this research area is that a multimedia document comprises more than one type of contents (i.e. text, image, audio). In order to address this challenge, many works have been focusing on the indexing techniques development which can accommodate multiple multimedia object representation or known as object features. However, most of the experiments use only one certain kind of collection, for example a collection of WWW pages, video collections, image collections, and so forth. In this paper, we propose a multidimensional approach which could accommodates semantic indexing of various multimedia contents in different multimedia collections, since the fact is that different multimedia documents may share similar information. The architecture comprises three components:  (1) collection manager (which manages multimedia documents repository); (2) indexer (which handles multimedia concept detection and indexing); and (3) query processor (which deals with query and search results). Our hypothesis is that the more complete the document (which indexed in many different feature spaces), the more relevant the document and should be ranked higher in the search results.

Keywords: CBMMIRS, multimedia information retrieval, multidimensional approach

 

Kerangka PIECES

Kerangka PIECES (performance, information, economy, control, efficiency, and services) adalah salah satu tools yang digunakan dalam melakukan analisa/studi kelayakan operasional. Kerangka ini diciptakan oleh James Watherbe dan berfungsi untuk mengidentifikasi permasalahan yang harus diselesaikan, dan urgensinya. Berikut ini adalah penjelasan mengenai komponen-komponen dalam kerangka tersebut:

  • Performance
    • Produksi – jumlah kerja selama periode waktu tertentu
    • Waktu respon – penundaan rata-rata antara transaksi atau permintaan dengan respons ke transaksi atau permintaan tersebut
  • Information
    • Output
      • Kurangnya informasi
      • Kurangnya informasi yang diperlukan
      • Kurangnya informasi yang relevan
      • Terlalu banyak informasi – “kelebihan informasi”
      • Informasi yang tidak dalam format yang berguna
      • Infomasi yang tidak akurat
      • Informasi yang sulit untuk diproduksi
      • Infomasi yang tidak tepat waktunya untuk penggunaan selanjutnya
    • Input
      • Data tidak di-capture
      • Data tidak di-capture pada waktunya untuk berguna
      • Data tidak di-capture secara akurat – terdapat error
      • Data sulit di-capture
      • Data di-capture secara berlebihan – data yang sama di-capture lebih dari sekali
      • Terlalu banyak data di-capture
      • Data ilegal di-capture
    • Penyimpanan data
      • Data disimpan secara berlebihan dalam banyak file dan/atau database
      • Item-item data sama memiliki nilai-nilai berbeda dalam file-file berbeda (integrasi data yang jelek)
      • Data tersimpan tidak akurat
      • Data tidak aman dari kecelakaan atau vandalisme
      • Data tidak diorganisasikan dengan baik
      • Data tidak fleksibel – tidak mudah untuk memenuhi kebutuhan informasi baru dari data tersimpan
      • Data tidak dapat diakses
  • Economy
    • Biaya
      • Biaya tidak diketahui
      • Biaya tidak dapat dilacak ke sumber
      • Biaya terlalu tinggi
    • Keuntungan
      • Pasar-pasar baru dapat dieksplorasi
      • Pemasaran saat ini dapat diperbaiki
      • Pesanan-pesanan dapat ditingkatkan
  • Control
    • Keamanan/control terlalu lemah
      • Input data tidak diedit dengan cukup
      • Kejahatan (misalnya, penggelapan atau pencurian) terhadap data
      • Etika dilanggar pada data atau informasi – mengacu pada data atau informasi yang mencapai orang-orang yang tidak mempunyai wewenang
      • Data disimpan secara berlebihan, tidak konsisten dalam file-file atau database-database yang berbeda
      • Peraturan atau panduan privasi data dilanggar (atau dapat dilanggar)
      • Error pemrosesan terjadi (oleh manusia, mesin, atau perangkat lunak)
      • Error pembuatan keputusan terjadi
    • Kemanan/control berlebihan
      • Red tape (prosedur) birokratis memperlambat sistem
      • Pengendalian menganggu para pelanggan atau karyawan
      • Pengendalian berlebihan menyebabkan penundaan pemrosesan
  • Efficiency
    • Orang, mesin, atau komputer membuang waktu
      • Data secara berlebihan di-input atau disalin
      • Data secara berlebihan diproses
      • Informasi secara berlebihan dihasilkan
    • Orang, mesin, atau komputer membuang material dan persediaan
    • Usaha yang dibutuhkan untuk tugas-tugas terlalu berlebihan
    • Material yang dibutuhkan untuk tugas-tugas terlalu berlebihan
  • Services
    • Sistem menghasilkan produk yang tidak akurat
    • Sistem menghasilkan produk yang tidak konsisten
    • Sistem menghasilkan produk yang tidak dapat dipercaya
    • Sistem tidak mudah dipelajari
    • Sistem tidak mudah digunakan
    • Sistem canggung untuk digunakan
    • Sistem tidak fleksibel pada situasi baru atau tidak umum
    • Sistem tidak fleksibel untuk berubah
    • Sistem tidak kompatibel dengan sistem-sistem lain

Referensi

Penerimaan Proposal Hibah Penelitian DP2M Dikti Kemdiknas

Kemarin diumumkan bahwa DP2M Dikti Kemdiknas membuka penerimaan proposal hibah. Kali ini proposal hibah yang diterima antara lain:

Batas waktu pengumpulan proposal adalah 30 April 2011. Pengumuman resminya dapat dibaca pada tautan berikut.

Salam

Cara Menulis Artikel Ilmiah

Boleh jadi skripsi atau tesis pernah digarap. Tapi begitu berhadapan dengan yang namanya artikel ilmiah, belum tentu semua orang paham bagaimana cara menulisnya. Tentu semua orang pasti pernah jadi pemula (dan saya pun demikian). Untuk itu, saya mau berbagi sedikit pengetahuan dan pengalaman yang saya peroleh dalam menulis beberapa artikel ilmiah. Silakan simak slide presentasi berikut.

Program Kreativitas Mahasiswa Ditjen Dikti Kemdiknas

Demi menumbuhkan kreativitas di kalangan mahasiswa, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional menyelenggarakan suatu program yang menarik yang diberi nama “Program Kreativitas Mahasiswa” atau disingkat dengan PKM. Program yang sudah berlangsung sejak tahun 2001 ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Diharapkan, kelak setelah lulus, para mahasiswa dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan profesional yang mampu menerapkan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ipteks serta budaya nasional.

Berikut jenis-jenis PKM yang dikutip dari Buku Panduan PKM 2010:

  1. PKM-P: merupakan program penelitian yang bertujuan antara lain: untuk mengidentifikasi faktor penentu mutu produk, menemukan hubungan sebab-akibat antara dua atau lebih faktor, menguji cobakan sebuah bentuk atau peralatan, merumuskan metode pembelajaran, melakukan inventarisasi sumber daya, memodifikasi produk eksisting, mengidentifikasi senyawa kimia di dalam tanaman, menguji khasiat ekstrak tanaman, merumuskan teknik pemasaran, survei kesehatan anak jalanan, metode pembelajaran aksara Bali disiswa sekolah dasar, laju pertumbuhan ekonomi di sentra kerajinan Kasongan, faktor penyebab tahayul yang mewarnai perilaku masyarakat Jawa dan lain lain kegiatan yang memiliki tujuan semacam itu. (Pendanaan maks. Rp 10 juta)
  2. PKM-T: merupakan program bantuan teknologi (mutu bahan baku, prototipe, model, peralatan atau proses produksi, pengolahan limbah, sistem jaminan mutu danlain-lain) atau manajemen (pemasaran, pembukuan, status usaha dan lain lain) atau lainnya bagi industri berskala mikro atau kecil (industri rumahan, pedagang kecil atau koperasi) sesuai kebutuhan calon mitra program. Mitra program yang dimaksud dalam hal ini adalah kelompok masyarakat yang dinilai produktif. PKMT mewajibkan mahasiswa bertukar pikiran dengan mitra terlebih dahulu, karena produk PKMT merupakan solusi atas persoalan yang diprioritaskan mitra.Dengan demikian, di dalam usul program harus dilampirkan Surat PernyataanKesediaan Bekerjasama dari Mitra pada kertas bermaterai Rp 6.000,- . (Pendanaan maks. Rp 10 juta)
  3. PKM-K: merupakan program pengembangan ketrampilan mahasiswa dalam berwirausaha dan berorientasi pada profit. Komoditas usaha yang dihasilkan dapat berupa barang atau jasa yang selanjutnya merupakan salah satu modal dasar mahasiswa berwirausaha dan memasuki pasar. Jadi pemeran utama berwirausaha dalam hal ini adalah mahasiswa, bukan masyarakat, ataupun mitra lainnya. (Pendanaan maks. Rp 10 juta)
  4. PKM-M: merupakan program bantuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam upaya peningkatan kinerja, membangun keterampilan usaha, penataan dan perbaikan lingkungan, penguatan kelembagaan masyarakat, sosialisasi penggunaan obat secara rasional, pengenalan dan pemahaman aspek hukum adat, upaya penyembuhan buta aksara dan lain-lain bagi masyarakat baik formal maupun non-formal, yang sementara ini dinilai kurang produktif. Disyaratkandalam usulan program ini adanya komitmen bekerjasama secara tertulis dari komponen masyarakat yang akan dibantu/menjadi khalayak sasaran. (Pendanaan maks. Rp 10 juta)
  5. PKM-AI: merupakan program penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari suatu kegiatan mahasiswa dalam pendidikan, penelitian atau pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukannya sendiri (studi kasus, praktek lapang, KKN, PKM, magang, dan lain-lain). (Insentif Rp 3 juta)
  6. PKM-GT: merupakan program penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari ide atau gagasan kelompok mahasiswa. Gagasan yang dituliskan mengacu kepada isu aktual yang dapat ditemukan di masyarakat dan memerlukan solusi hasil karya pikir yang cerdas dan realistik. (Insentif Rp 3 juta)

Sumber: Panduan PKM 2010 (view) (download)

Catatan

Bagi mahasiswa STMIK Indonesia yang memiliki ide kreatif dan ingin berpartisipasi dalam PKM, dipersilakan untuk menghubungi saya selaku Ketua LPPM.

the Mobile Revolution

Apakah Anda mengetahui apa yang disebut dengan teknologi Mainframe? Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui dan sedikit yang pernah menggunakannya (saya pun tidak pernah menyentuh Mainframe). Apakah Anda mengetahui apa yang disebut dengan teknologi PC? Tentunya sebagian besar dari kita menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari, tapi tidak semua orang menggunakannya. Apakah Anda mengetahui apa yang disebut dengan teknologi seluler? Saya berasumsi bahwa semua orang pasti mengetahuinya. Teknologi ini telah digunakan secara luas oleh masyarakat, mulai dari teknologi seluler yang paling sederhana (hanya bisa telpon, SMS, dan main game snake, dll.) sampai dengan teknologi yang “pintar” (telpon, SMS, game, mobile internet). Penambahan fitur mobile internet ternyata memberikan perubahan yang sangat signifikan, terutama dalam cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. Di era sekarang, kita sering disibukkan dengan mengakses berbagai social media, seperti Facebook, Twitter, Youtube, Flickr, dll. sebagai media komunikasi. Hal yang paling ekstrem, media tersebut digunakan untuk menggerakkan massa untuk melakukan revolusi sosial (contoh: demo besar-besaran di Mesir untuk menjatuhkan Presiden Mubarak). Presentasi dari Peter Pascale dan Ron Lancaster menggabarkan betapa “hebat”-nya teknologi seluler dalam dunia yang kita jalani sekarang. Trend memang mengarah ke mobile technology, terutama munculnya teknologi tablet. Kalau Indonesia mau maju di bidang IT, sangat mudah sekali. Hanya ada tiga kata kunci: developer, developer, dan developer!

Salam

Presentasi Kemajuan Riset eCHNH

Pada tanggal 15 Maret 2011 di DRPM UI, tim riset e-Cultural Heritage and Natural History (eCHNH) yang dipimpin oleh Prof. Heru (mewakili Bapak Zainal A. Hasibuan) memaparkan kemajuan  risetnya. Adapun anggota tim yang turut mendukung kegiatan tersebut antara lain: Baginda Anggun Nan Cenka, Nungki Selviandro, Yana Adharani, Resika Arthana, Gema Parasti Mindara, Mubarik Ahmad, Rasben, Fajar, dan saya sendiri. Alhamdulillah, presentasi dan sesi tanya jawab yang dipimpin oleh para reviewer berlangsung dengan lancar. Terima kasih atas dukungan dari seluruh tim yang terlibah. Semoga seluruh target penelitian yang dicanangkan dapat tercapai.